Minggu, 04 Desember 2011

Kisah Nyata (Pengorbanan Malaikat tak bersayap Bernama IBU)

IBU, Mama, Emak, Bunda, Mom, Ummi kata itu adalah sebutan atau
 panggilan dari mahluk tuhan yang mulia yang rela bergulat dengan sakit
 bahkan kematian demi melahirkan anaknya, yang rela kelaparan dan
 kehausan demi terpenuhinya kebutuhan dari anaknya, yang siap
 memberikan apapun yang ia miliki jika itu membuat anaknya bahagia,
 bahkan karena keadaan mahluk ini rela bekerja kotor sebagai pelacur
 sekalipun agar anaknya tidak kelaparan dan kedinginan,bahkan biasanya
 seorang Ibu lah yang mau mengorbankan keinginan dan cita-citanya untuk
 mengerti dan memahami anaknya yang terkadang tersesat jalan hidupnya
 karena Obat-obatan (Narkoba),tawuran dan perkelahian antar pelajar
 dan membimbingnya kembali
 dengan kasih dan perhatiannya agar anaknya itu kembali menjalani jalan
 yang lurus yang sesuai dengan jalan agama dan kehidupan masyarakat
 pada umumnya.

Bohong. dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa
 kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang
 mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan
 ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata
 kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu
 mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
 anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
 saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
 nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
 “Makanlah nak,aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
 waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
 berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
 bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
 yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
 ibu duduk disamping saya

dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang
 merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu
 seperti itu, akupun terdiam hatiku tersentuh oleh ketulusan dan
 pengorbanannya, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada
 ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak,
 ibu tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolahku dan abangku,
 ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk
 ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk
 menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari
 tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan
 gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku
 berkata :”Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus
 kerja.” Ibu tersenyum dan berkata
 :”Cepatlah tidur nak, ibu tidak capek nih lihat sambil memeragakan
 bseorang binaraga dengan senyuman yang dipaksakan karena kelelahan”
 ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
 pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
 ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
 beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
 selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
 disiapkan dalam botol yang
 dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan
 kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh,
 aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu
 berkata: “Minumlah nak,ibu tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG
 KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
 sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
 dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
 pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
 kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
 yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
 maupun masalah
 kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang
 begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi.
 Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
 ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta, saya bahagia dan mensyukuri
 keadaan saya sekarang ini” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
 bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
 mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
 sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
 bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
 memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
 tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Ibu
 belum memerlukannya nak,ibu masih punya simpanan” ———-KEBOHONGAN
 IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
 memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
 berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
 di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
 membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
 hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku
 tidak terbiasa nak,baik baik lah disana dan janganlah lupakan sholat”
 ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
 lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
 seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
 ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
 setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
 dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
 terkesan agak kaku karena sakit yang
 ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh
 ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil
 menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali
 melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya
 berkata : “jangan menangis anakku,ibu tak apa nak,aku tidak kesakitan”
 ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
 menutup matanya untuk yang terakhir kalinya, meninggalkan dunia yang
 telah kejam dan keras kepadanya, meninggalkanku dan abangku yang belum
 sempat membahagiakanya, meninggalkanku yang masih butuh belaian halus
 dikepala dan punggungku sambil berkata yang sabar nak kelak semua akan
 indah pada waktunya, meninggalkan kenangan dan wejangan yang aku dan
 abangku perlukan dalam menjalankan hidupku kedepan ini, saat terakhir
 inipun ku bersimpuh untuk terakhir kalinya dikakinya sambil menangis
 sejadi-jadinya, kaki yang kata orang tersimpan surga untuk ku dan
 abangku,kukuatkan diri ini namun apa daya pikiran ku dan badan ku tak
 sejalan aku pun tak sadarkan dirisampai akhirnya bang rino membopongku
 ke kamar ibu yang masih seperti dulu karena ia menolak rumahnya
 anak-anaknya bangun katanya ” jangan nak kau tabung saja untuk
 keperluanmu,aku tidak ingin kenangan ayahmu hilang karena berubahnya
 rumah ini”————KEBOHONGAN IBU YANG KESEMBILAN

dan Penguburannya pun siap dilakukan takbir pun bergema membuatku
 terbangun dari ketidak sadaranku dan kucium kening Ibuku untuk
 terakhir kalinya sebelum kain kafan itu ditutup dan diikat dengan
 ihklas meski berat bagiku ku antar ibu ku ke peristirahatan
 terakhirnya tak terasa air mata terus saja mengucur dari mataku
 akhirnya Malaikat Tak Bersayap ini kembali ke penciptanya,Bang Rino
 yang mengumandangkan azzan didalam liang lahat ibu, meski ia terlihat
 kuat tapi terlihat sekali hatinya hancur seiring kepergiaan ibu yang
 sangat aku dan dia cintai dan sayangi.

Akupun bertekad Bu aku akan memiliki Keluarga yang bahagia Cucu-cucumu
 kelak akan menjadi orang yang berhasil yang akan membuatmu dan ayah
 bangga, 7 hari setelah menyelesaikan acara tahlilan 7 harian
 ibuku,bang rino pun kembali kebandung,melanjutkan hidupnya,dan akupun
 kembali ke Seattle karena harus bekerja disana.

“nb”

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
 tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! “
 memeluk bahkan bersimpuh dibawah kakinya Coba
 dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah
 ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
 untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
 yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
 meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah
 dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita
 pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan
 kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas
 apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua
 pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah
 makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah
 bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan
 kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas
 budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata
 “MENYESAL” di kemudian hari...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar